25 Januari 2014

Noise : MissComm

Kegagalan Komunikasi Manusia
Manusia merupakan makhluk sosial, sehingga manusia tidak bisa hidup sendiri. Maka diperlukan komunikasi untuk menjalin hubungan satu sama lain. Ada kalanya saat kita menjalin komunikasi satu dengan yang lain terjadi kegagalan berkomunikasi. Gagal berkomunikasi tersebut berupa gangguan, entah dari dalam diri komunikator dan komunikan  atau dari luar.
Ketika komunikator dan komunikan berkomunikasi  kadang terjadi gagal mencapai kesepahaman. Hal itu terjadi karena perbedaan daya tangkap terhadap suatu pesan atau simbol. Daya tangkap yang berbeda dapat dipengaruhi oleh latar belakang komunikator dan komunikan. Latar belakang itu berupa biologisnya, pendidikannya, kebudayaan atau kebiasaannya, dan bahasa yang digunakan. Biologis merupakan faktor yang terjadi dari dalam diri. Misalkan orang gagap akan lebih sulit diajak bicara karena membutuhkan waktu yang lama untuk mengerti apa yang ia katakan. Pendidikan komunikator dan komunikan yang berbeda jenjang misalnya, seorang lulusan S1 mengajak ngobrol seseorang lulusan SD. Lulusan S1 berbicara tentang suatu topik menggunakan bahasa ilmiah tapi lulusan SD tidak dapat menangkap apa yang dibicarakan sehingga ia hanya dapat mengerti percakapan seadanya. Kebudayaan atau kebiasaan sehari-hari antara komunikator dan komunikan berbeda. Misalnya orang dari timor yang berbicara dengan suara keras tidak dapat diterima oleh orang dari jawa yang terbiasa mendengar orang berbicara dengan lembut. Hal tersebut bisa memicu terjadinya konflik. Penggunaan bahasa yang berbeda juga dapat menimbulkan kegagalan berkomunikasi. Misalkan penggunaan bahasa daerah yang berbeda membuat orang yang berkomunikasi tidak mengerti satu sama lain.
Dalam berkomunikasi kita juga membutuhkan media. Tetapi kadang media dapat membuat terjadinya gagal berkomunikasi. Media komunikasi yang terganggung menimbulkan pesan yang tidak sempurna. Misalkan dengan adanya kemajuan teknologi. Sekarang ini tidak perlu bertatap muka secara langsung untuk melakukan percakapan, cukup dengan mobile phone, laptop dan internet. Tetapi masalah muncul saat pulsa habis, jaringan sinyal terganggu sampai baterai habis, maka komunikasi pun tertunda.
Kegagalan dalam berkomunikasi juga meliputi cara penyampaian pesan yang salah. Seseorang menyampaikan perasaannya pada orang lain tanpa pemikiran. Tidak jarang pula seseorang menyampaikan pikirannya disertai perasaan tertentu disadari atau tidak disadari. Perasaan yang sering menguasai percakapan adalah emosi dari orang-orang yang berkomunikasi. Ada  baiknya ketika berkomunikasi kita bisa mengontrol ego masing-masing untuk menguasai suatu percakapan.
Tiara Saras Yuliana – 602012004
Vania Dezmonda – 602012005

Maria Zen Budiati – 602012009

Komunikasi Antar Budaya : Tradisi Kirab Kerbau Kyai Slamet


Komunikasi Antar Budaya
Tradisi Kirab Kerbau Kyai Slamet




Maria Zen Budiati - 602012009

PUBLIC RELATIONS
FAKULTAS TEKNIK INFORMASI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
2013

A.     Pendahuluan
Selain memiliki kemegahan arsitektur bangunan, Kraton Surakarta juga memiliki suatu warisan budaya yang tak ternilai. Diantaranya adalah upacara-upacara adat, tari-tarian sakral, musik, dan pusaka. Upacara adat yang terkenal adalah upacara Garebeg, upacara Sekaten, dan upacara Malam Satu Suro. Upacara yang berasal dari zaman kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi.
Tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri. Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa). Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam kramat. Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa. Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.
Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. Karenanya dapat dipahami jika masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro. Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro. Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.
Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap kramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat kraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.
B.     Sejarah
Pada masa Pemerintahan Pakoe Boewono II, jaman Kraton Kartasura di sekitar abad ke 17, diceritakan bahwa di kerajaan terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi yang membuat ’sinuwun’ harus melarikan diri ke Ponorogo. Di Ponorogo beliau ditampung oleh Bupati Ponorogo dan berdiam di sana untuk beberapa saat hingga pemberontakan berakhir. Pada masa pelariannya di Ponorogo, Sang Raja Kartasura itu memperoleh petunjuk gaib bahwa pusaka Kyai Slamet harus ‘direkso’ atau dijaga oleh sepasang ‘kebo bule’ atau kerbau albino jika ingin kerajaan aman sentausa dan langgeng. Kuasa Tuhan yang luar biasa pada saat itu, seolah gayung bersambut, Sang Bupati Ponorogo tiba-tiba ingin menunjukkan baktinya kepada rajanya dengan mempersembahkan sepasang ‘kebo bule’ kepada sinuwun, tepat disaat beliau membutuhkannya. Kebo bule atau kerbau albino pada masa itu (mungkin juga pada masa sekarang) adalah kerbau yang sangat jarang ditemui dan dimiliki orang kebanyakan dan merupakan hewan piaraan bernilai tinggi. Maka sinuwun Pakue Boewono II menerima dengan baik ‘pisungsung’ (persembahan) sang bupati dan berterimakasih atas persembahan yang sangat sesuai dengan kebutuhannya. Sinuwun membawa sepasang kerbau bule itu kembali ke Kraton Kartasura setelah pemberontakan usai dan hingga kerajaan berpindah tempat ke Desa Sala dan berganti nama menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.
Secara turun temurun kerbau bule terus bertindak sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet hingga masyarakat luas menyebut kerbau itu sebagai Kerbau Kyai Slamet. Kerbau Kyai Slamet berarti kerbau yang menjaga Kyai Slamet, sedangkan Kyai Slamet itu sendiri adalah sebuah pusaka yang tak kasat mata yang hanya Sang Raja yang tahu dan bagi rakyat kebanyakan pusaka Kyai Slamet adalah tetap misteri sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menyebut sang kerbau saja sebagai Kyai Slamet. Hingga kini kerbau Kyai Slamet telah beranak pinak dan tetap dihormati dan disebut sebagai kerbau bule Kyai Slamet. Konon, saat Paku Buwono II mencari lokasi untuk kraton yang baru, tahun 1725, leluhur kebo-kebo bule tersebut dilepas, dan perjalanannya diikuti para abdi dalem kraton, hingga akhirnya berhenti di tempat yang kini menjadi kraton Kasunanan Surakarta. Kemunculan kebo bule Kyai Slamet dalam kirab adalah perpaduan antara legenda dan sage (cerita rakyat yang mendewakan binatang. kraton Surakarta tidak pernah menyatakan tlethong (kotoran) kerbau bisa mendatangkan berkah, namun bisa diphami ini sebagai cara masyarakat menciptakan media untuk membuat permohonan.
C.     Kirab Kerbau Kyai Slamet
Malam 1 sura dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut kalender Jawa. Dalam perhitungan jawa, malam 1 sura dimulai dari terbenamnya matahari pada hari terakhir bulan terakhir kelender jawa (29/30 bulan Besar) sampai terbitnya sang matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya. Dilingkungan kraton Surakarta Hadiningrat upacara ini diperingati dengan kegiatan kirab mengililingi beteng kraton.
Dimulai dari kompleks Kemandungan Utara melalui gerbang Brojonolo kemudian mengintari seluruh kawasan kraton dengan arah berlawanan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman Kemandungan Utara. Dalam profesi pusaka kraton menjadi bagian utama pada barisan terdepan baru kemudian diikuti para pembesar kraton, kerabat dan jajaran kraton yang lengkap dengan pakaian kratonnya, dan akhirnya oleh masyarakat. Uniknya pada lapisan barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet yang selalu menjadi pusat perhatian tersendiri bagi masyarakat.
Kirab Pusaka 1 Sura  ini melibatkan sekitar 600 abdi dalem yang mengusung 13 pusaka Kraton Surakarta. Kirab dilakukan dengan membawa penerangan obor dan lampu ting mengelilingi kompleks kraton melalui Gladag-Jl Jenderal Sudirman-Jl Mayor Kusmanto-Jl Kapten Mulyadi-Jl Veteran-Jl Yos Sudarso-Jl Slamet Riyadi-Gladag dan kembali ke kraton.  Dari Pringgitan  KGPAA Mangkunegaran IX, berjalan menuju teras Pendhapi Ageng untuk melepas empat pusaka. Sebelum diarak mengelilingi Pura Mangkunegaran yang diikuti oleh kerabat kerjaan serta masyarakat, pusaka tersebut dibasuh air terlebih dahulu. Setelah itu barulah saatnya kirab kerbau kyai slamet. Kirab itu sendiri berlangsung tengah malam, biasanya tepat tengah malam, tergantung kemauan dari kebo Kyai Slamet. Sebab, ada saatnya kebo kramat baru keluar dari kandang selepas pukul 01.00. Kirab pusaka ini sepenuhnya memang sangat tergantung pada kebo kramat Kyai Slamet. Jika saatnya tiba, biasanya tanpa harus digiring kawanan kebo bule akan berjalan dari kandangnya menuju halaman kraton. Maka, kirab pun dimulai. Kawanan kerbau kramat akan berada di barisan terdepan, mengawal pusaka kraton Kyai Slamet yang dibawa para abdi dalem kraton. Kerumunan orang pun menyemut dari kraton hingga di sepanjang perjalanan yang dilalui arak-arakan. Selama kirab berlangsung, Sinuhun Pakubuwono akan berdoa dengan bersemedi di dalam kraton.
Bagi masyarakat Solo, dan kota-kota di sekitarnya, seperti Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, Sukoharjo, dan Wonogiri, kebo bule Kyai Slamet bukan lagi sebagai hewan yang asing. Setiap malam 1 Sura menurut penanggalan Jawa, atau malam tanggal 1 Muharam menurut kalender Islam (Hijriah), sekawanan kebo kramat ini selalu dikirab, menjadi cucuk lampah sejumlah pusaka kraton.
Ritual kirab malam 1 Sura itu sendiri sangat ditunggu-tunggu masyarakat. Ribuan orang tumpah ruah di sekitar istana, juga di jalan-jalan yang akan dilalui kirab. Masyarakat meyakini akan mendapat berkah dari kraton jika menyaksikan kirab.
Dan inilah yang menarik, orang-orang menyikapi kesakralan kerbau Kyai Slamet sedemikian rupa, sehingga cenderung tidak masuk akal. Mereka berjalan mengikuti kirab, saling berebut berusaha menyentuh atau menjamah tubuh kebo bule. Tak cukup menyentuh tubuh kebo, orang-orang tersebut terus berjalan di belakang kerbau, menunggu sekawanan kebo bule buang kotoran.
Begitu kotoran jatuh ke jalan, orang-orang pun saling berebut mendapatkannya. Tidak masuk akal memang. Tapi mereka meyakini bahwa kotoran sang kerbau akan memberikan berkah, keselamatan, dan rejeki berlimpah. Mereka menyebut berebut kotoran tersebut sebagai sebagai tradisi ngalap berkah atau mencari berkah Kyai Slamet.
D.     Kajian Pustaka
Pada awalnya, "culture" dekat pengertiannya dengan kata "kultivasi", yaitu pemeliharaan ternak, hasil bumi, dan upacara-upacara religius (yang darinya diturunkan istilah kultus atau "cult"). Gerakan Nasionalisme di akhir abad ke-19 juga ikut mempengaruhi dinamika pemaknaan atas budaya, dimana lahir istilah "budaya rakyat" dan "budaya nasional". Menurut Rene Char bahwa kebudayaan adalah warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat. Kebudayaan terbentuk dari perilaku nenek moyang yang kemudian menjadi suatu kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga menjadi ciri khas tersendiri dari suatu pulau.
Surakarta memiliki suatu kebudayaan yakni kirab malam satu sura, dimana kirab tersebut merupakan arak-arakan pusaka-pusaka kraton Surakarta dan sekelompok kerbau bule yang sering disebut Kerbau Bule Kyai Slamet. Sebagian masyarakat Surakarta banyak yang beranggapan bahwa barang siapa yang bisa mendapatkan kotoran atau feses dari kerbau bule Kyai Slamet pada malam satu Sura, akan diberi keselamatan dan ditambahkan rezeki.
Perilaku Ngalap berkah Kyai Slamet dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal subjek yakni adanya keyakinan bahwa dengan mendapatkan kotoran kerbau bule Kyai Slamet, akan diberi keselamatan dan bertambahnya rezeki, serta munculnya penilaian terhadap pengalaman yang dialami dari hubungan interaksi lingkungan subjek (keluarga, peer group, masyarakat lain) sehingga menimbulkan sikap yakni melakukan modelling. Faktor eksternal yakni adanya tokoh-tokoh panutan (nenek moyang, orang tua, group dan masyarakat) sehingga menjadi norma subjektif yang disebut adat Istiadat. Kedua faktor tersebut didukung lagi dengan adanya intensi berperilaku subjek melakukan ritual malam satu sura.
Fenomenologi perilaku ngalap berkah Kyai Slamet, merupakan proses atribusi yang berasal dari persepsi dan dipengaruhi oleh locus of cusality Internal dan Eksternal, dimana persepsi yang muncul antara lain:1) Raja adalah orang yang luar biasa. 2) Raja merupakan orang yang paling dekat dengan Dewa (Tuhan). 3) Keinginan Manunggaling Kawula Lan Gusti (menjadi satu dengan Tuhan / dekat dengan Tuhan). 4) Semakin dekat dengan Raja maka dekat pula dengan Tuhan. 5) Kerbau bule yang disimbolkan dengan Raja, maka sesuatu yang keluar dan sisa dari kerbau bule Kyai slamet juga dianggap sesuatu yang dianggap sama dengan apa yang dikeluarkan oleh seorang raja. Locus of causality internal, adanya emosional yang berlebihan untuk bertemu dengan Raja, dengan harapan menjadi lebih dekat dengan Tuhan sehingga segala harapan akan terkabul dan locus of causality eksternalnya karena adanya birokrasi yang membatasi (susah dan rumit) untuk bertemu dengan seorang Raja. Sehingga perilaku atribusi yang terjadi adalah 1) bertemu dengan binatang kesayangan 2) berusaha mendapatkan bagian dari Kerbau Bule Kyai Slamet 3) Feses digunakan sebagai jimat keberuntungan.



  
DAFTAR PUSTAKA

Kuntowijoyo. 2004. Raja, Priyayi, dan Kawula. Yogyakarta: Ombak
Margana, S. 2004. Kraton Surakarta dan Yogyakarta 1769-1874.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sutrisno, Mudji dan Hendar Putranto. 2005. Teori-Teori Kebudayaan. Jakarta: Penerbit Kanisius

Tugas Akhir Statistika for PR : Besar Kebutuhan Pulsa Mahasiswa FTI Dalam Sebulan


Statistika
Besar Kebutuhan Pulsa Mahasiswa FTI Dalam Sebulan




Disusun oleh
Tiara Saras Yuliana – 602012004
Valiany Sahara – 602012006
Maria Zen Budiati – 602012009

PUBLIC RELATIONS
FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
2013



BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar belakang
Seiring arus globalisasi dengan tuntutan kebutuhan pertukaran informasi yang cepat membuat peranan teknologi komunikasi menjadi sangat penting. Teknologi komunikasi dalam wujud ponsel merupakan fenomena yang paling unik dan menarik dalam penggunaannya.
Menurut Budyatna (2005) munculnya penggunaan ponsel dapat mempengaruhi proses yang bersifat transaksional tersebut. Seringkali komunikasi yang dinamis dan timbal balik dirasakan menurun pada interaksi tatap muka.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat penggunaan ponsel pada mahasiswa ataupun remaja saat ini, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat penggunaan ponsel yang dilihat dari tingkat konsumtifitas dalam  banyaknya pengeluaran pulsa yang digunakan untuk berbagai keperluan gadget bagi Mahasiswa Penelitian dilakukan di Universitas Kristen Satya Wacana, Fakultas Teknologi Informasi. Pengambilan sampel penelitian ditentukan dengan sengaja (purposive) secara accidental sampling.

B.            Tujuan :
1.      Untuk mengetahui seberapa konsumtif mahasiswa yang dilihat dari penggunaan pulsa itu sendiri.
2.      Mencari tahu untuk keperluan apa saja pulsa itu digunakan.
3.      Untuk mencari pengeluaran pulsa sebanding denganfasilitas yang didapatkan.

C.                 Asumsi:
1.      Kebutuhan akan komunikasi saat ini sangat besar, saat ini hampir semua komunikasi dilakukan menggunakan seluler.misalnya BBM (blackberry massanger), aplikasi chat (Line, Whats Up, KakaoTalk) , sosial media, dll.
2.      Gaya hidup mahasiswa saat ini tidak bisa jauh dari penggunaan telepon seluler, hampir setiap saat mereka selalu menggunakannya dimanapun dan kapanpun. Hal ini disebabkan oleh perkembangan teknologi yang didominasi oleh pesatnya arus informasi yang serba cepat dan instant.
3.      Berbagai promosi yang ditawarkan oleh banyaknya provider mempengaruhi jumlah minimal pemakain pulsa. Misalnya telkomsel yang saat ini menawarkan paket bulan Ramadhan  dengan isi pulsa minimal Rp 10.000 mendapatkan bonus internet 5mb dalam sehari berlaku setiap kelipatan pengisian pulsa.
4.      Pengaruh biaya penggunaan pulsa terhadap kebutuhan sehari-hari. Pemenuhan akan ketersediaan pulsa sering mengalahkan kebutuhan primer. Ada saja kebutuhan pimer yang dikorbakan hanya untukmemenuhikebutuhanpulsa.

D.                Ruang Lingkup
40 Mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Universitas Kristen Satya Wacana (17-25 tahun) secara acak. Terdiri dari 20 orang laki-laki dan 20 orang perempuanangkatantahun 2009-2012.

E.                 Hipotesis
1.      Tingkat konsumtif lebih banyak pada pengguna smartphone (Blackberry dan Android).
2.      Penggunaan pulsa terbanyak adalah untuk SMS.
3.      Fasilitas yang diberikan provider berupa kuota paket SMS.




BAB II
ISI
A.                Pertanyaan Penelitian
1.      Tingkat konsumtif mahasiswa FTI terhadap penggunaan pulsa.
2.      Kecenderungan pengeluaran uang saku.
3.      Jenis konten yang paling banyak digunakanolehmahasiswa FTI.

B.                 Variabel Penelitian
1.      Variabel bebas             : Jumlah nominal pulsa dalam sebulan
2.      Variabel terikat           : Jumlah uang saku dalam sebulan
3.      Variabel pengganggu  : Jenis konten yang digunakanuntukpulsa

C.                 Sumber Data
Data primer diperoleh dari responden (mahasiswa FTI 2009-2012) melalui pengisian kuisioner.

D.                Metode Pengumpulan Data
Data penelitian yang diperoleh melalui kuesioner.




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.                Deskripsi Data
Penelitian menggunakan alat kuisioner yang dibagikan secara acak kepada 40 orang mahasiswa FTI UKSW dari angkatan 2009-2012 dengan jarak usia 17-25 tahun, yang terdiri dari 20 mahasiswa laki-laki dan 20 mahasiswa perempuan.
Untuk mengetahui deskripsi masing-masing aspek, maka dilakukan pengelompokkan menjadi 3 kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah.
Tabel 1
Hasil Deskripsi Jumlah Pengeluaran Pulsa Mahasiswa FTI Selama Sebulan
Variabel
Kategori
Skor
Jumlah
Akumulasi pengeluaran pulsa mahasiswa FTI selama sebulan
Tinggi
<20
22
Sedang
20-40
12
Rendah
>40
6
Total
40

B.                 UjiHipotesis
Dalamujihipotesisproporsipopulasisebagaiberikut :
A.                        B.                   C.





Data PengeluaranUangdari 40 orang mahasiswadalam 1 (satu)bulan
Rata-rata Uang Saku Mahasiswa
JmlMhsw
%
100-200
6
15,0%
200-300
3
7,5%
300-400
5
12,5%
400-500
8
20,0%
>500
18
45,0%
Total
40
100,0%

Pengeluaran pulsa untuk sebulan
JmlMhsw
%
<10
1
2,5%
10-20
5
12,5%
20-30
6
15,0%
30-40
6
15,0%
40-50
5
12,5%
>50
17
42,5%
Total
40
100,0%

Konten
JmlMhsw
%
Sms
16
40,0%
Telepon
10
25,0%
Internet
12
30,0%
Lain-lain
2
5,0%
Total
40
100,0%

Freq. pembeli pulsa dalam sebulan
JmlMhsw
%
1-2
10
25,0%
3-4
18
45,0%
5-6
9
22,5%
>6
3
7,5%
Total
40
100,0%

Nominal yang seringdibeli
JmlMhsw
%
5-10
18
45,0%
15-20
6
15,0%
25-50
12
30,0%
50>
4
10,0%
Total
40
100,0%

HipotesisDeskriptif
Ø  45%     untukmahasiswa yang memilikiuangsakulebihdariRp. 500,000,-
Ø  42.5%  mahasiswa yang membelipulsalebihdariRp. 50,000,-
Ø  40%     rata-rata mahasiswauntuk SMS
Ø  45%     mahasiswa yang membelipulsa 3~4 kali dalamsebulan
Ø  42.5%  mahasiswamembelipulsadengan nominal Rp. 5,000 ~ 10,000,-

Tabel 1
DalamJumlahMahasiswa
Tabel2
DalamPersentase
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang mengkaji hubungan dan pengaruh antara variabel bebas yaitu jumlah nominal pulsa dalam sebulan dengan variabel terikat yaitu jumlah uang saku dalam sebulan.
Setelah diadakan pengolahan data kuisioner beserta pembahasannya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut.Jadi, dari hasil penelitian diperoleh bahwa mahasiswa FTI yang mendapat uang saku lebih dari Rp 500.000,00 akan menggunakan uangnya untuk membeli pulsa dengan nominal 5 ribu – 10 ribu dari 3- 4 kali pembelian yang digunakan dalam konten SMS. Sehingga pengeluaran pulsa dalam sebulan dapat mencapai lebih dari Rp 50.000,00




LAMPIRAN
Daftar kuisioner
Jenis Kelamin  : L/P
Umur               :
1.    Berapa jumlah uang saku Anda selama sebulan?
      100 ribu - 200 ribu
      Lebih dari 200 ribu - 300 ribu
      Lebih dari 300 ribu - 400 ribu
      Lebih dari 400 ribu - 500 ribu
      Lebih dari 500 ribu
2.    Berapa jumlah pengeluaran pulsa untuk sebulan?
      Kurang dari 10 ribu
      10 ribu – 20 ribu
      Lebih dari 20 ribu – 30 ribu
      Lebih dari 30 ribu – 40 ribu
      Lebih dari 40 ribu – 50 ribu
      Lebih dari 50 ribu
3.    Rata-rata jenis pengeluaran pulsa yang paling banyak untuk konten
      SMS
      Telpon
      Internet
4.    Dalam sebulan rata-rata berapa kali membeli pulsa?
      1-2 kali
      3-4 kali
      5-6 kali
      Lebih dari 6 kali
5.    Berapa jumlah nominal pulsa yang sering dibeli?
      5 ribu – 10 ribu
      15 ribu – 20 ribu
      25 ribu – 50 ribu
      Lebih dari 50 ribu



 

Zen Copyright © 2015 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos